Posted in Surat

Selembar Surat Untuk Penjaga Hatiku

 

Gunung Sari, 11 Oktober 2016

 

Untuk seseorang yang kumiliki hatinya.

Enam tahun lalu aku tidak sengaja berkenalan denganmu via facebook. Lambat laun perkenalan itu menjadi semakin dekat dan sampai pada sebuah hubungan yang bernama ‘pacaran’. Lebih tepatnya backstreet.

Awalnya aku biasa-biasa saja. Aku menganggap hubungan kita hanya sebuah status belaka. Karena memang waktu itu aku masih labil dan hanya ingin bermain-main dengan apa yang namanya perasaan. Tidak ada perlakuanmu yang membuatku merasakan hal spesial. Kamu sama saja dengan teman-temanku yang lain, gombal seperti biasanya dan sok perhatian padaku. Kamu bahkan punya kekasih yang bukan hanya aku.

Namun setelah cukup banyak waktu yang kita jalani, perlahan aku merasa nyaman dengan perhatianmu. Ada rasa yang tak ingin kehilangan semua candaan lucu dan sikapmu yang hangat. Apalagi saat kamu juga merasa nyaman denganku sampai kamu memutuskan hubunganmu dengan kekasihmu yang lain. Saat itu aku merasa benar-benar dihargai dan dihormati keberadaannya.

Ungkapan yang mengatakan bahwa ‘dunia tak selebar daun kelor’ itu benar adanya. Terbukti dari fakta yang ternyata kamu adalah teman baik dari seseorang yang ku panggil kakak. Itu seakan seperti sebuah lampu hijau yang membuatku semakin percaya diri untuk melanjutkan hubungan kita. Aku bahkan seperti menemukan sosok kakak sekaligus kekasih yang bisa menjagaku dan selalu ada setiap kali aku butuh.

Sikapmu yang selalu bisa diandalkan dan kenyamanan yang selalu kamu hadirkan membuatku bahagia bisa menjadi seseorang yang kamu anggap spesial.

Aku suka dengan kesederhanaan yang kamu miliki. Karena kesederhaan itulah yang membuatku merasa dilengkapi.

Aku tidak butuh seseorang dengan wajah yang luar biasa indah, sehingga setiap kali menatapnya banyak orang akan terkagum-kagum. Bagiku kesempurnaan dari sebuah hubungan itu  bukan terletak dari bagaimana caranya saling menatap, tapi hubungan itu akan sempurna saat dua pemilik hati itu saling mengerti dan menghargai perasaan pasangannya.

Selama 6 tahun kebersamaan kita, terimakasih sudah mencintaiku. Terimakasih banyak karena kamu sudah menjaga kepercayaanku. Terimakasih karena kamu sudah berusaha membuatku untuk tidak bosan berada di dekatmu. Bahkan aku bangga dengan ketulusanmu yang rela menjemputku setiap kali aku pulang malam. Terimakasih sudah menjadikan keluargaku sebagai keluargamu juga.

Untuk saat ini tidak ada yang bisa ku berikan sebagai imbalan atas semua kebaikanmu, hanya terimakasih yang terdalam dari hatiku untuk semua yang selama ini sudah kamu berikan padaku.

Namun jika memang suatu hari nanti aku ditakdirkan untukmu dan kamu untukku, maka saat itu aku akan memberikan seluruh duniaku di bawah kakimu.

Dari seseorang yang kamu miliki hatinya.

 

Advertisements
Posted in Kumpulan Cerpen

Jalan Cinta

 

#Aku suka dengan jalanku mencintaimu,

  Tapi sahabatku lebih dari segalanya.

Adakah hukum Tuhan yang mengadili getaran itu ?

“Perasaan”

Sebuah kata yang tak pernah bisa terungkap kronologis misterinya. Seluruh makhluk Tuhan lainnya tercipta dengan balutan perasaan. Lembah nan hijau tersenyum dengan penuh perasaan. Dedaunan menari-nari dengan penuh perasaan. Adam mencintai hawa karena perasaan. Tak akan pernah ada yang bisa menerjemahkan siratan makna pada segumpal daging dalam rongga dada.

Tok tok tok !

Sesosok gadis berjilbab dengan seragam putih abu-abu lengkap tampak sedang berdiri di depan pintu sebuah rumah yang cukup megah. Dan sesaat terlihat seorang gadis berambut hitam membuka pintu dan langsung tersenyum, juga mengenakan seragam yang sama.

“Maaf ya, aku lama.” Ucap si gadis berambut hitam.

“Nggak apa-apa. Ya udah, kita berangkat yuk !” Balas si gadis berjilbab.

Pagi itu, angin begitu sibuknya saling berlalu. Burung-burung bernyanyi dengan melodi yang indah. Dan mentari tersenyum dengan sangat manis. Mengiringi untaian langkah dua orang gadis yang selalu bersama. Seyna Ethiara Carres, seorang gadis blasteran jawa dan australia. Dia memiliki sahabat yang selalu setia di sampingnya, kapanpun dan dimanapun. Dia biasa memanggilnya Sarah. 10 tahun persahabatan mereka tak pernah kandas dengan konflik yang tak terselesaikan. Seperti menara Eiffel dan paris yang tak mungkin dipisahkan. Begitulah mereka. Hingga akhirnya cinta hadir dan merubah segalanya.

Murid baru !

Kehadiran seorang laki-laki berambut hitam, berbadan tegap dan dengan lesung pipinya, sejenak mengubah perasaan di hati kedua sahabat itu. Laki-laki berbadan tegap itu tampak terlibat dengan dilema pandangan pertama dan menyukai salah satu dari mereka berdua. Waktu istirahat tiba, kedua gadis itu nimbrung di kantin seperti biasanya. Sesosok laki-laki datang menghampiri mereka.

“Hai… aku boleh duduk di sini nggak ?” seraya menunjuk bangku kosong di depan Seyna dan Sarah.

“Eh Galang. Boleh banget !” Seyna menjawabnya dengan senyuman manis.

Selama waktu itu, Seyna terus memandang ke arah Galang, sosok yang membuatnya menggila seketika. Namun ternyata pandangan Galang malah bertemu dengan pandangan Sarah yang kemudia tertunduk malu. Dan anehnya seperti ada getaran asing yang menggebu. Hening sejenak. Kemudian mereka tersadar dengan suara bel masuk.

Pulang sekolah, Sarah merasa ada yang aneh dengan Seyna. Tak biasanya Seyna seceria itu. Seyna yang tidak memperhatikan kebingungan yang tergambar di raut wajah sahabatnya itu hanya sibuk dengan dendangan lagunya.

“Aku perhatiin dari tadi kok senyum-senyum sendiri ? hayoo… kenapa ?” Sarah mulai menggoda Seyna.

“Hmmm… Syalala. Aku rasa aku jatuh cinta, Ra.”

“Ciiieee… siapa sih laki-laki yang sudah merebut hati sahabatku ini ?” Tanya Sarah sambil bercanda dan menyenggol bahu Seyna.

“Kamu pasti tau orangnya, Ra. Dan untuk sekarang, aku nggak akan kasi tau kamu. Aku mau kasi kejutan buat kamu. Nanti setelah aku jadian sama dia. Haha…”

“Hmm… gitu ya, sekarang udah main rahasiaan sama aku.”

Bukan hari itu saja, wajah Seyna berseri setiap hari. Seakan dewi asmara tengah berpihak padanya. Sejak saat itu, Seyna menjadi lebih tertutup pada Sarah. Dan selalu menyembunyikan inisial seseorang yang dicintainya.

Hitungan menit terganti jam, begitupun dengan jam yang kemudian berganti hari. Hingga akhirnya, Seyna harus menerima kenyataan bahwa Galang tak pernah memiliki rasa yang sama sepertinya.

“Maafin aku, Na. Aku sudah jatuh cinta pada seseorang. Aku yakin suatu hari nanti kamu pasti  seseorang yang lebih baik dari aku.” Kalimat yang diucapkan Galang akhirnya menorehkan luka yang dalam di hati Seyna.

Ada sengatan listrik yang menyambar palung hati Seyna begitu dalam. Senyuman yang awalnya tak pernah tergantikan dengan apapun, kini justru terganti air mata dan kenyataan yang seharusnya tidak akan pernah ia dengar. Dia tidak menyangka, cinta pertamanya tak pernah mencintainya. Gadis itu tertunduk dengan fikiran yang kacau, deraian air mata membanjiri wajahnya. Di saat seperti ini, Seyna sangat membutuhkan sahabatnya yang justru sedang bergulat dengan problema hatinya, yang ternyata juga mencintai Galang.

Saking terlarutnya dalam kesedihan, Seyna tidak menyadari kehadiran Sarah yang datang dan langsung duduk di samping sahabatnya itu. Ada suasana dan ekspresi yang tak wajar yang ditemui Sarah pada Seyna.

“Na… kamu kenapa ?”

“Galang, Ra ! Galang !” Butiran embun dari matanya perlahan jatuh.

“Galang kenapa ?”

Sarah seperti tidak terima sahabatnya menangis seperti itu. Tak ada respon dari Seyna. Hanya derai air matanya yang semakin deras. Sarah berusaha menenangkan sahabatnya itu.

“Jangan kayak gini dong. Cerita sama aku apa yang sebenarnya terjadi ?”

“Galang nggak pernah cinta sama aku, Ra. Pantas saja setiap bertemu, dia hanya bertanya tentang orang lain.” Kali ini Seyna terisak di depan sahabatnya itu.

“Apa mungkin laki-laki yang kamu cintai selama ini adalah Galang ?” kali ini Sarah terkejut mendengar siapa laki-laki yang dicintai sahabatnya itu.

“Iya, Ra. Tapi Galang tidak pernah mencintaiku. Aku udah salah mengerti arti dari setiap pandangan dan senyumannya. Aku terlalu yakin pada diriku sendiri bahwa dia mencintaiku.”

Sarah masih tidak percaya dengan apa yang dituturkan Seyna. Bagaimana mungkin dia jatuh hati pada orang yang sama dengan sahabatnya sendiri. Tapi, kemudian dia berusaha menenangkan perasaannya.

“Udah, Na. Jangan kayak gini dong. Aku nggak bisa liat kamu kayak gini.”

Sarah mengulurkan jemarinya untuk menghapus butiran embun di wajah Seyna dan merangkul sahabatnya dengan penuh perasaan. Tanpa sadar, dia meneteskan air mata melihat tangisan Seyna, sahabat satu-satunya yang paling ia sayangi. Seyna melepaskan rangkulan itu dan berusaha tersenyum dihadapan Sarah.

“Tapi aku bahagia, karena Galang sudah mencintai seseorang yang tepat. Meskipun itu bukan aku.”

“Maksud kamu apa, Na ?”

“Galang mencintai seseorang yang sangat aku sayangi. Katanya, gadis itu orang yang pertama kali membuat hatinya merasa sejuk. Dia pintar, ramah, dan begitu anggun. Gadis itu sekelas dengannya, dengan kita juga.”

Kemudian, Seyna berbalik menatap wajah sahabatnya lekat-lekat dan menggenggam jemari Sarah.

“Gadis yang berhasil merebut hati Galang dan membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, sekarang ada di hadapanku.”

“A..apa maksud kamu, Na ?” Sarah berusaha mencari kepastian dari ucapan Seyna.

“Iya. Gadis itu bernama Sarah Altafakiya. Dia satu-satunya sahabat terbaik dalam hidupku.”

Wajah Sarah seketika dipenuhi embun bening yang memang sudah terkumpul sejak tadi, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengar dari sahabatnya itu.

Itu tidak mungkin. Jika gadis itu, aku. Lalu bagaimana dengan perasaan sahabatku ? Sebenarnya aku juga mencintainya. Tapi aku tidak mungkin menggadaikan perasaan sahabatku sendiri. ~ Sarah

 Sarah bertanya-tanya dalam hatinya dan memberontak dengan perasaannya yang ternyata searah dengan Galang dan menjadi rumit dengan Seyna, sahabatnya.

“Aku tau. Sebenarnya kamu juga suka kan sama Galang ? aku bisa liat dari bahasa sikapmu, Ra. Aku baru sadar, cinta tidak akan indah dalam sebuah paksaan hati. Aku minta maaf, Ra. Aku sudah menghalangi jembatan cinta kamu sama Galang.”

“Enggak, Na. Aku nggak mungkin berani mencintai seseorang yang sangat dicintai sahabatku. Aku sayang banget sama kamu, Na. Aku nggak mungkin dan nggak akan pernah mungkin jatuh hati di tempat yang sama dengan sahabatku.”

“Kamu jangan bohong, Ra. Aku akan sangat merasa bersalah kalau sampai kamu bohongi perasaan kamu sendiri hanya demi perasaanku. Galang mencintai kamu. Kamu juga mencintai Galang. Aku yang memutuskan untuk mencintai Galang. Jadi bukan salah Galang jika ternyata dia memang tidak mencintaiku. Aku akan lebih bahagia kalau Galang sama kamu. Untukku, persahabatan kita lebih berharga dari apapun di dunia ini. Termasuk cinta yang aku rasakan. Aku ikhlas, Ra.”

Tanpa berkata apapun, Sarah memeluk Seyna dengan erat, juga sebaliknya, bersama deraian embun yang tak hentinya mengalir dari wajah kedua gadis yang bersahabat sejak 10 tahun lalu.

“Aku sayang kamu, Na. Aku sayang kamu ! Aku nggak akan pernah bisa mendapatkan sahabat lain seperti kamu.” Sarah masih tersedu dalam rangkulan Seyna.

“Aku juga sayang kamu, Ra.”

Bukan cinta, jika aku memaksanya untuk menerima rasaku. Percuma melangkah dengan rasa yang dipaksakan untuk bersatu. Lagipula aku berhutang budi padanya yang telah mengenalkanku pada cinta. Dan mungkin bukan jalan yang tepat untukku memilikinya. Biarlah rasa itu menjadi langkah untukku membangun cerita yang lebih indah. ~ Seyna

 

Ditulis pada tanggal 30 November 2015

Oleh Aohana

Posted in Surat Untuk Mas Ku (The Series)

Surat Untuk Mas Ku (Series 4) – Aku percaya kamu

 

Mataram, 08 September 2016

 

Mas, apa kabar bulan ini ? kamu disana baik-baik aja kan ? makanmu teratur kan, Mas ? aku khawatir dengan keadaanmu. Aku ingin selalu ada untukmu, Mas.

Ini sudah sekian hari sejak kamu memutuskan untuk meniadakan komunikasi di antara kita. Sampai saat ini aku belum bisa ikhlas menerima keputusanmu, Mas. Sekalipun aku mengerti kamu melakukannya untuk menempuh jalan yang benar, tapi perasaan dan fikiran yang selalu ingin mendengar dan mengetahui kabarmu dari jauh sangat menyiksaku.

Itu membuatku sering menghabiskan waktu dengan teman-temanku, Mas. Aku merasa ada yang hilang ketika kamu tiba-tiba meniadakan komunikasi itu. Jelas saja. Karena sebelumnya aku yang selalu mendengar suaramu dari jauh dan tenggelam dalam percakapan seru bersamamu, sekarang sudah tidak bisa berkomunikasi denganmu.

 Namun jika memang dengan meniadakan komunikasi membuatmu tetap nyaman denganku, maka aku akan berusaha melakukannya, Mas.

Mas, kamu ingat waktu kita bertemu awal juli yang lalu ? kamu datang dengan senyuman. Kemudian kamu berkunjung ke BTN tempatku tinggal. Tidak ada yang berubah darimu, hanya saja kamu semakin tampan. Dan itu membuatku harus selalu siap untuk cemburu dengan perempuan-perempuan yang akan melirikmu dengan kagum. Kamu tau, Mas ? aku diam-diam mengabadikan sosokmu dengan kamera handponeku dalam berbagai ekspresi ketika kamu sibuk berbicara dengan kakakku. Sekarang aku jadi suka senyum-senyum sendiri setiap kali melihat fotomu itu.

Kita memang jauh, Mas. Tapi kamu selalu memenuhi ruang di hatiku. Karena kita berada dalam sebuah takdir hati yang bernama cinta.

Jadi bagiku, cinta ya cinta. Tidak perlu mempermasalahkan jarak dan waktu. Bagaimanapun semua itu akan terkikis perlahan, dan akhirnya akan menemukan kebahagiaan sejati.

Mas, tak apa jika aku harus menunggu lebih lama lagi. Mungkin sekarang kamu masih butuh waktu untuk memikirkan dan mempersiapkan hal-hal terbaik di masa depan. Tapi aku minta satu hal, jangan pernah menyuruhku untuk memilih bertahan atau melepaskan. Karena entah sampai kapanpun aku tidak akan bisa menemukan seseorang dengan sosok sejati sepertimu. Aku sudah menyerahkan segenap perasaanku untuk kamu miliki, Mas. Cukup bilang semuanya akan baik-baik saja, maka semuanya akan baik-baik saja.

Aku sedang berusaha untuk tidak terus-menerus menuntutmu menikahiku, Mas. Bukan karena aku ingin menyerah atasmu, tapi karena aku mempercayaimu dan lebih menghormati segala keputusanmu di atas perasaanku. Maafkan aku jika sampai saat ini egoku selalu menyudutkanmu, Mas. Itu karena aku terlalu menyayangimu.

Jika ditanya siapa yang paling takut kehilangan pasangannya, maka jawabannya adalah AKU.

Aku sangat percaya dengan indahnya rencana Allah, Mas. Tapi aku tetap seorang perempuan yang takut kehilangan seorang lelaki yang ku cintai. Aku sangat takut jika seandainya kita tidak digariskan dalam satu takdir. Karena itu aku tidak pernah lupa untuk menyertakan namamu dalam setiap ibadahku kepada Allah agar aku dijadikan seseorang yang akan dihalalkan untukmu, dan kamu yang dihalalkan untukku.

Do’aku selalu menyertai langkahmu, Mas. Aku selalu mencintaimu :’)

Posted in Surat Untuk Mas Ku (The Series)

Surat Untuk Mas Ku (Series 3) – Hanya Kamu

 

Mataram, 03 Desember 2015

#Jangan khawatir, Mas. Di sela-sela kesibukanku, masih ada kamu.

Mas, aku ingin berterimakasih karena kamu sudah mengizinkanku mengaktifkan kembali akun facebook ku. Setelah sekian lama aku tidak beraktivitas di profilku, dan melihat aktivitas teman-temanku di beranda.

Tapi kamu jangan marah ya, mas. Jika suatu ketika kamu melihat ada comment-an laki-laki lain di status ku, ataupun sapaan manis mereka di wall ku. Kamu hanya harus percaya padaku, mas.

Setampan apapun para lelaki di luar sana, dan sehebat apapun mereka. Kamu selalu jadi yang pertama untukku.

Aku ingin jujur, mas. Beberapa waktu lalu ada seseorang yang mengajakku menikah. Dia menjanjikanku banyak hal yang tidak pernah kamu janjikan. Tapi aku tidak tertarik dengan tawarannya. Aku hanya akan setia denganmu, mas. Aku yakin janji yang “dia” lontarkan belum tentu benar-benar ditepati. Sebanyak dan seindah apapun janjinya, ucapanmu selalu yang pertama, mas.

Mas, dia memang berbeda denganmu. Kamu sering menuntutku harus begini dan begitu, seperti aku bukan diriku yang sebenarnya. Sedangkan dia adalah kebalikanmu. Dia membebaskanku melakukan apapun yang ku inginkan. Tapi meskipun aku risih dengan penuntutanmu, aku percaya itu adalah cara terbaik untukmu mengubahku menjadi seorang perempuan yang lebih dewasa, dan lebih tau bagaimana kodratnya sebagai seorang muslimah sejati.

Kamu kapan pulangnya, mas ? aku kangen. Semakin hari, rasa khawatir itu terus membayangiku. Aku khawatir banyak perempuan di luar sana yang menggodamu, meskipun aku percaya kamu akan sulit tergoda.

Seandainya kamu ada di sini bersamaku, mas. Aku akan bersandar di bahumu. Aku ingin berbagi segala masalah yang tengah melandaku. Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu, mas. Jika terus ku tulis seperti ini, mungkin akan menghabiskan banyak lembaran kertas kosong yang tak berdosa hanya untuk menumpaskan segala keluh kesalku selama menunggumu.

Aku yakin ini adalah salah satu cara-Nya untuk menguji sejauh mana kesabaran dan kesetiaan hati kita sebelum akhirnya Allah merestui hubungan kita, mas. Menjadikanku seseorang yang akan menemani tidurmu, melepaskan segala lelahmu sehabis pulang dari kantor, menjadi seseorang yang akan kamu nikmati wajahnya setiap kamu bangun tidur di pagi hari, menjadi seseorang yang akan melahirkan dan membesarkan anak-anakmu kelak, dan seseorang yang akan mendampingimu hingga nafas terakhir.

Dariku,

Yang tidak pernah berhenti untuk menyelipkan bait-bait kerinduan padamu.

Posted in Surat Untuk Mas Ku (The Series)

Surat Untuk Mas Ku (Series 2) – Ketika masa depan mulai bertanya

 

Mataram, 21 November 2015

Aku iri ketika melihat orang lain berjalan romantis dengan belahan jiwanya

Hmmm… aneh sekali ya, mas. Aku di sini dan kamu di sana. Kapan ya kita bertemu di pelaminan ? setiap hari aku berusaha keras untuk menjaga mata dan hatiku agar aku selalu bisa menjaga kesetiaanku padamu. Aku harap kamu juga begitu ya, mas.

Mas, setiap malam aku kesepian. Tanpa ada inbox ataupun telpon darimu. Aku menyibukkan diri dengan teman-teman kos ku. Tapi jika sedang lelah sepulang kerja, aku hanya akan tiduran memeluk guling dan memandangi layar hp ku (berharap ada namamu di antara pesan dan telpon yang masuk). Seandainya kita sudah bertemu sebelumnya pasti waktu-waktu selanjutnya akan ada percakapan lucu di antara kita, dan mungkin aku akan bertanya, “Mas, ingin dimasakkan apa besok ?”

Eh tau nggak, mas ? aku sudah banyak belajar menu masakan lho. Aku ingin membuatmu ketagihan dengan masakanku. Apalagi nanti ketika akhirnya Allah memilihku menjadi kekasih yang dihalalkan untukmu dan kamu yang dihalalkan untukku. Tapi kapan ya, mas ?

Mas, jangan risau hanya karena sebuah jarak dan perbedaan tempat kerja. Meskipun aku di sini dengan kesibukanku, dan kamu di sana dengan segudang kesibukanmu yang tidak jarang membuat kita jenuh dan terdesak kerinduan. Percayalah, mas. Allah tidak akan begitu saja  menggantungkan hubungan dua insan yang sudah terjalin cukup lama. Justru menurutku, Allah sedang menguji kesetiaan kita. Aku percaya itu, mas.

Aku selalu berdo’a agar kamulah pelabuhan terakhirku, mas. Kamu yang akan menjadi pemimpin hidupku di masa depan. Kamu yang akan ku nikmati garis wajahnya setiap aku bangun dari lelapku. Kamu yang akan menjadi imam dalam setiap sujudku.

Mas, meskipun segala do’a dan tasbihku selalu ada kamu dan kita, tapi aku tidak boleh egois menuntutmu menjadi milikku. Karena sejatinya kamu adalah milik Allah, dan bagaimanapun semuanya tentang rizki, jodoh, dan kematian sudah ada dalam dokumen-Nya. Aku hanya akan menjadi yang halal bagimu atas keridhaan-Nya, mas.

Aku mencintaimu atas Ridha-Nya, Mas.

Posted in Surat Untuk Mas Ku (The Series)

Surat Untuk Mas ku

Mataram, 18 November 2015

 

Kamu apa kabar, mas ?

Aku merindukanmu.

Aku masih di sini menunggumu kembali, mas. Menghempaskan sepi tanpa ada kamu yang menggenggam tanganku. Menepis semua isu negative tentang kita yang tengah menjalani LDR. Kamu tau apa yang membuatku bertahan sampai sejauh ini, mas ? karena aku merasa kamu adalah lelaki yang tepat untuk menutupi kekuranganku.

Karena aku yakin ketika kamu mengatakan akan menikahiku, kamu pasti akan mempertanggungjawabkannya.

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu, mas. Tentang rasa cintaku yang tidak pernah bisa termakan oleh jarak dan waktu. Tentang rindu dan kegalauan yang menyatu ketika kamu menghilang tanpa kabar. Dan bahagianya aku ketika akhirnya kamu menghubungiku. Aku bisa menikmati suaramu yang khas, perhatianmu yang hangat, dan tulusnya perasaanmu. Meskipun itu melalui media genggam, aku sangat bahagia.

Pernah suatu malam seorang teman meramal hubungan kita. Katanya kamu punya perempuan lain di seberang sana. Perempuan itu bukan sekedar teman untukmu, mungkin lebih dari itu. Aku menggalau, mas. Ada ketakutan luar biasa yang tiba-tiba datang. Aku takut kalau apa yang dikatakan temanku itu benar adanya.

Ada satu hal yang harus kamu tau, mas. Tidak usah khawatir dengan kesetiaanku. Karena meskipun aku percaya dengan apapun yang orang lain katakan dan  prasangka buruk yang berkeliaran di fikiranku tentangmu yang jauh di sana, tapi batinku selalu menentangnya. Bagai minyak yang menolak bersatu dengan air, seperti itulah batinku yang menolak sejalan dengan fikiranku. Aku mempercayaimu lebih dari siapapun, mas.

Mas, bukannya aku sok cantik dan sok pamer. Tapi kenyataannya memang ada beberapa lelaki di luar sana yang mendekatiku dan menjanjikan hal-hal indah yang diimpikan oleh semua perempuan di dunia ini. Jika itu perempuan lain, mungkin mereka akan menerimanya dengan bahagia dan melepaskan janji yang belum ada kepastiannya. Tapi aku berbeda, mas. Aku sudah memilihmu, dan akan tetap begitu sampai sang Khaliq sendiri yang memutuskan segalanya untuk kita.

Mas…

Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, selama kamu juga tidak akan pernah meninggalkanku.

Aku akan selalu bersabar menunggumu, sampai akhirnya nanti aku menjadi yang halal untukmu.

Cepat kembali, mas. Aku merindukanmu :’)

Posted in Puisi

Aku, kau, dan HUJAN

Hujan, bisakah kau datang bersamanya ?

Iringi langkahnya dengan nyanyian rindumu

Pertemukan aku dengan kehangatannya

Agar ku yakin dia masih ada bersamaku

Untukmu, pemilik hati yang enggan melihatku

Ingatkah dengan serangkai pesta termanis waktu itu

Menobatkanku menjadi satu-satunya puteri di istanamu

Mengecup anganku seakan aku memang tercipta untukmu

Jangan pernah salahkan cinta yang bertamu

Ia hanya satu rasa yang ingin diterima adanya

Tak perlu melibatkannya dalam pertarungan nyata

Antara aku, kamu, dan kita…

Aku menyukai hujan karenamu

Mencintainya seperti aku mencintaimu

Bukan tanpa alasan seperti apa yang kau lakukan

Namun karena ia adalah saksi bisu di antara cerita kita

Nanti, saat perasaanmu menemukan kehadiranku

Temui aku dengan senyumanmu yang membutakan hati

Genggam tanganku dengan segenap perasaanmu

Dekap aku bersama rindu yang tumpah di hatimu

Dan nyanyikan cerita hujan tentang kita.

 

(Kamis, 01 Desember 2016)