Posted in Opss #Opinions'

Apa Pendapat Kamu Tentang Pacaran ?

What I think about relationship ? especially, pacaran.

Jadi begini, sejak beberapa tahun lalu dan entah sampai kapan (ceilah bahasa gue) banyak temen-temen yang nanya saya tentang pacar. Bukan hanya temen, bahkan keluarga juga ribut tentang hal itu. Katanya, mustahil cewek seumuran saya nggak punya pacar. Apalagi dengan perkembangan globalisasi dan modernisasi yang kian luar biasa. Tapi memang benar, baik saat itu hingga sekarang saya nggak punya pacar. Nggak tau besoknya gimana.

Orangtua saya bukan tipe orang yang suka mencampuri kehidupan cinta anak-anaknya. Bapak, orang yang paling masa bodoh dengan urusan tentang hal-hal yang berbau cinta dan sejenisnya. Beliau adalah tipikal yang loyal banget dengan kesuksesan karir anaknya, baru setelah itu ‘whatever’ lah terserah saya. Bedanya, mama sering bilang gini :

“Pacaran aja, nggak apa-apa. Hal itu wajar untuk anak seusia kamu. Mama percaya kamu bisa jaga diri dengan baik. Daripada melihat kamu terlalu membatasi diri dengan laki-laki, mama takut nantinya punya anak nggak nikah-nikah. Lebih mengutamakan karir di atas segalanya.”

(Ya elah, mama buat malu aja. Ya kali anak sendiri dibilang nggak nikah-nikah. Nanti ya, ma. Ada saatnya.)

Pernah jatuh cinta terus disakiti ya, makanya nggak mau pacaran lagi sampai sekarang? apa masih ada seseorang yang belum bisa dilupain ? (Duh, jangan tanya itu ya. Pribadi banget soalnya). Pada intinya, bukan itu alasan saya nggak pacaran sampai sejauh ini. Buat saya pribadi, pacaran itu bukan hanya tentang kesepian yang terisi, sekedar menyembunyikan kesendirian, bukan juga sebagai ATM berjalan kalau sedang ingin beli ini-beli itu (maaf ya kalau gue terlalu jujur). Pacaran itu adalah tahap mengenal seperti apa sih hubungan yang coba diperankan antara dua orang yang berbeda jenis kelamin.

Kalau ditanya pernah atau nggaknya pacaran. Jujur nih ya, pernah (dulu). Yaah meskipun hubungannya nggak seromantis Dilan-Milea, nggak seabadi Romeo-Juliet. Itu pun karena terjerumus labilnya dunia remaja. Hanya ingin tau, gimana sih pacaran itu. Dan ternyata ? (jrengg jeng jeng… rahasia aja). Saya bukannya anti-pacaran. Bukannya anti-cowok. Jangan khawatir, saya masih normal lho ya. Kalau dibilang iri melihat pasangan muda-mudi yang pacaran, sejujurnya sedikit. Tapi… irinya itu hanya sekedar bayangan numpang lewat. Nggak juga dibawa perasaan, dan berlarut-larut sampai ngotot harus punya pacar besok. (For god shake, it’s not me !). Karena saya tipe orang yang cukup sulit merasa. (Ha ha ha, abaikan).

Kok bisa sih tahan banget nge-jomblo ? kalau nggak pacaran, terus kenapa statusnya di IG ataupun media sosial yang lain galau semua ? (gue jawab di chapter yang lain ya)

Panjang banget omongannya, intinya apa ? jadi intinya, pacaran atau nggak pacaran itu tergantung sama prinsip hidup kalian. Tergantung pada kesenangan pribadi kalian. Ada yang bilang nggak bisa hidup tanpa pacaran (Wow, great.), ada yang bilang kalau nggak ada si dia nggak ada yang perhatiin, ada yang bilang udah terbiasa gonta-ganti pacar, dan sebagainya. Silahkan, itu hak semua orang.

How about me ? saya punya prinsip. Pacaran untuk sebatas mengenal dalam kadar secukupnya, dan langsung diseriuskan. (Serah gue dong ya. Wkwwk :D)

Saya pribadi menyukai kesibukan di dunia sendiri. Sulit terpengaruh dengan hubungan yang seperti itu. Kalau kalian menjadikan pacaran sebagai satu-satunya tolak ukur sebuah kebahagiaan duniawi, itu salah besar. Jangan lupa, bahagia itu punya antonim, yaitu sedih. For me, happy isn’t always about special someone.

Bahagia itu bisa kita dapatkan dari siapapun, nggak harus punya seseorang yang istimewa. Karena buat saya, quality time dengan diri sendiri, keluarga, dan teman-teman itu sudah lebih dari cukup untuk membeli sebuah kebahagiaan.

 

Udah. Itu aja. Ditunggu like, koment, kritik dan sarannya yaa 🙂 Thx bef & aft.

 

 

Advertisements
Posted in All About "Chocolatos", Uncategorized

Welcome Back !

 

covers

Hai …!!!!!

Akhirnya setelah cukup lama vakum dari dunia tulisan, aku kembali lagi. Nah, edisi come back kali ini aku posting Novel judulnya “Chocolatos”. Novel ini mengisahkan tentang perjalanan dua orang gadis. Mulai dari kisah romansa, keluarga, comedy, hingga klasiknya sebentuk hati. Semuanya akan ada di Novel ini. Dilengkapi dengan quotes dan multimedia yang super seru.

Kalian bisa baca ceritanya di url ini (https://www.storial.co/book/chocolatos) karena beribu maaf, aku nggak bakal posting ceritanya di wordpress. Kalau pun aku posting, mungkin hanya beberapa part singkat maupun quotes saja. Hal itu untuk menghindari plagiarisme.

Sedikit gambaran tentang Novel “Chocolatos” :

Nessa, si gadis periang dengan perasaan misterius yang tidak mudah terbaca oleh siapapun. Seorang penulis amatir yang ingin setiap tulisannya dikenang banyak orang. Ia jatuh hati dengan chocolatos choco drink. Menurutnya, tekstur coklat yang kental selalu berhasil menyembunyikan kenyataan yang tidak ingin ia bagi dengan siapapun. Rasa pahit dan manisnya seakan menggambarkan trauma kepercayaan yang dilaluinya.

Lily, si gadis moody dengan hubungan rumit yang tidak pernah diketahui orang lain. Seorang pekerja keras yang tidak kenal menyerah. Ia jatuh hati dengan chocolates matcha latte. Warna hijau yang menjadi ciri khas minuman itu seakan membuatnya menyatu dengan kebebasan. Aroma yang dihasilkan mampu membawa ketenangan bagi hati dan pikirannya.

Keduanya bukan sepasang sahabat. Baik Nessa maupun Lily memiliki dunianya sendiri, meski ada satu dunia dimana mereka terlalu erat untuk dipisahkan. Perkenalan itu membuat mereka berdua memulai segalanya. Perjalanan tentang sibuknya keseharian di kampus. Tentang serunya cerita keluarga masing-masing dengan Bapak yang super galak. Sampai tentang dilematika cinta yang menenggelamkan keduanya ke dasar samudera keabadian. Liburan bersama, saling berdebat, hingga gagal move on dan ketakutan akan cinta mereka lalui di satu dunia yang sama.

Ayo ketemu perjalanannya Nessa dan Lily.

Terimakasih sudah mau mampir ke blog aku ya 🙂 kalau kalian ada masukan berupa saran dan sebagainya, chat aja langsung via akun sosial media ku. Atau kalian bisa tanyakan di Ask.fm/Aohanaa.

Posted in Love's Diary

Akhirnya Ku Menemukanmu

Our Story.jpg
Picture via instagram @secangkir_rasa

 

Teruntuk kamu, yang tiba-tiba datang sebagai penutup sepi…

Terimakasih sudah begitu bersabar menunggu hatiku untuk merasa. Aku tidak tau sedalam apa kamu memperjuangkan, yang aku tau kamu benar-benar tulus.

Memang bukan kamu seseorang yang kuinginkan sejak dulu. Bukan kamu orang yang membuat hati menjadi pengangguran. Bahkan menunggu di atas sakitnya bertahan tanpa kepastian. Namun, kamu adalah orang pertama yang berhasil membawaku kembali, setelah hampir sewindu aku menyingkir dari peradaban yang dikuasai cinta. Aku menemukan rumah untuk pulang.

Aku pikir, getaran itu akan selamanya mati bersama kepergiannya. Dan aku akan terus tenggelam di pertengahan malam dengan bayang-bayangnya. Sampai akhirnya aku mengenalmu. Kamu seolah mengabaikan kenyataan sedang berperang dengan masa laluku. Kamu membuat perkenalan kita bukan hanya sebuah fatamorgana yang kunikmati sesaat, lalu kuabaikan setelahnya.

Sebelum aku tau kamu, ada banyak mereka yang menawarkan hatinya untuk kutempati. Tetapi aku menolaknya. Ingin tau kenapa ? sebab, mereka hanya terobsesi dengan keindahan saat berdua. Kebahagiaan saat kesendirian terisi dengan kebersamaan. Berbeda denganmu, yang awalnya tidak ingin berkaitan hati denganku. Kamu hanya ingin membawaku kembali pada kenyataan yang seharusnya aku hadapi. Pelan-pelan, kamu justru membuat cerita baru dintara kita.

Jika kamu bertanya bagaimana perasaanku saat ini, aku bahagia. Untuk pertama kalinya aku berani mengatakan bahwa aku benar-benar bahagia denganmu.

 

Dengarkan videonya di sini ya 🙂

 

Posted in Surat

Selembar Surat Untuk Penjaga Hatiku

 

Gunung Sari, 11 Oktober 2016

 

Untuk seseorang yang kumiliki hatinya.

Enam tahun lalu aku tidak sengaja berkenalan denganmu via facebook. Lambat laun perkenalan itu menjadi semakin dekat dan sampai pada sebuah hubungan yang bernama ‘pacaran’. Lebih tepatnya backstreet.

Awalnya aku biasa-biasa saja. Aku menganggap hubungan kita hanya sebuah status belaka. Karena memang waktu itu aku masih labil dan hanya ingin bermain-main dengan apa yang namanya perasaan. Tidak ada perlakuanmu yang membuatku merasakan hal spesial. Kamu sama saja dengan teman-temanku yang lain, gombal seperti biasanya dan sok perhatian padaku. Kamu bahkan punya kekasih yang bukan hanya aku.

Namun setelah cukup banyak waktu yang kita jalani, perlahan aku merasa nyaman dengan perhatianmu. Ada rasa yang tak ingin kehilangan semua candaan lucu dan sikapmu yang hangat. Apalagi saat kamu juga merasa nyaman denganku sampai kamu memutuskan hubunganmu dengan kekasihmu yang lain. Saat itu aku merasa benar-benar dihargai dan dihormati keberadaannya.

Ungkapan yang mengatakan bahwa ‘dunia tak selebar daun kelor’ itu benar adanya. Terbukti dari fakta yang ternyata kamu adalah teman baik dari seseorang yang ku panggil kakak. Itu seakan seperti sebuah lampu hijau yang membuatku semakin percaya diri untuk melanjutkan hubungan kita. Aku bahkan seperti menemukan sosok kakak sekaligus kekasih yang bisa menjagaku dan selalu ada setiap kali aku butuh.

Sikapmu yang selalu bisa diandalkan dan kenyamanan yang selalu kamu hadirkan membuatku bahagia bisa menjadi seseorang yang kamu anggap spesial.

Aku suka dengan kesederhanaan yang kamu miliki. Karena kesederhaan itulah yang membuatku merasa dilengkapi.

Aku tidak butuh seseorang dengan wajah yang luar biasa indah, sehingga setiap kali menatapnya banyak orang akan terkagum-kagum. Bagiku kesempurnaan dari sebuah hubungan itu  bukan terletak dari bagaimana caranya saling menatap, tapi hubungan itu akan sempurna saat dua pemilik hati itu saling mengerti dan menghargai perasaan pasangannya.

Selama 6 tahun kebersamaan kita, terimakasih sudah mencintaiku. Terimakasih banyak karena kamu sudah menjaga kepercayaanku. Terimakasih karena kamu sudah berusaha membuatku untuk tidak bosan berada di dekatmu. Bahkan aku bangga dengan ketulusanmu yang rela menjemputku setiap kali aku pulang malam. Terimakasih sudah menjadikan keluargaku sebagai keluargamu juga.

Untuk saat ini tidak ada yang bisa ku berikan sebagai imbalan atas semua kebaikanmu, hanya terimakasih yang terdalam dari hatiku untuk semua yang selama ini sudah kamu berikan padaku.

Namun jika memang suatu hari nanti aku ditakdirkan untukmu dan kamu untukku, maka saat itu aku akan memberikan seluruh duniaku di bawah kakimu.

Dari seseorang yang kamu miliki hatinya.

 

Posted in Kumpulan Cerpen

Jalan Cinta

 

#Aku suka dengan jalanku mencintaimu,

  Tapi sahabatku lebih dari segalanya.

Adakah hukum Tuhan yang mengadili getaran itu ?

“Perasaan”

Sebuah kata yang tak pernah bisa terungkap kronologis misterinya. Seluruh makhluk Tuhan lainnya tercipta dengan balutan perasaan. Lembah nan hijau tersenyum dengan penuh perasaan. Dedaunan menari-nari dengan penuh perasaan. Adam mencintai hawa karena perasaan. Tak akan pernah ada yang bisa menerjemahkan siratan makna pada segumpal daging dalam rongga dada.

Tok tok tok !

Sesosok gadis berjilbab dengan seragam putih abu-abu lengkap tampak sedang berdiri di depan pintu sebuah rumah yang cukup megah. Dan sesaat terlihat seorang gadis berambut hitam membuka pintu dan langsung tersenyum, juga mengenakan seragam yang sama.

“Maaf ya, aku lama.” Ucap si gadis berambut hitam.

“Nggak apa-apa. Ya udah, kita berangkat yuk !” Balas si gadis berjilbab.

Pagi itu, angin begitu sibuknya saling berlalu. Burung-burung bernyanyi dengan melodi yang indah. Dan mentari tersenyum dengan sangat manis. Mengiringi untaian langkah dua orang gadis yang selalu bersama. Seyna Ethiara Carres, seorang gadis blasteran jawa dan australia. Dia memiliki sahabat yang selalu setia di sampingnya, kapanpun dan dimanapun. Dia biasa memanggilnya Sarah. 10 tahun persahabatan mereka tak pernah kandas dengan konflik yang tak terselesaikan. Seperti menara Eiffel dan paris yang tak mungkin dipisahkan. Begitulah mereka. Hingga akhirnya cinta hadir dan merubah segalanya.

Murid baru !

Kehadiran seorang laki-laki berambut hitam, berbadan tegap dan dengan lesung pipinya, sejenak mengubah perasaan di hati kedua sahabat itu. Laki-laki berbadan tegap itu tampak terlibat dengan dilema pandangan pertama dan menyukai salah satu dari mereka berdua. Waktu istirahat tiba, kedua gadis itu nimbrung di kantin seperti biasanya. Sesosok laki-laki datang menghampiri mereka.

“Hai… aku boleh duduk di sini nggak ?” seraya menunjuk bangku kosong di depan Seyna dan Sarah.

“Eh Galang. Boleh banget !” Seyna menjawabnya dengan senyuman manis.

Selama waktu itu, Seyna terus memandang ke arah Galang, sosok yang membuatnya menggila seketika. Namun ternyata pandangan Galang malah bertemu dengan pandangan Sarah yang kemudia tertunduk malu. Dan anehnya seperti ada getaran asing yang menggebu. Hening sejenak. Kemudian mereka tersadar dengan suara bel masuk.

Pulang sekolah, Sarah merasa ada yang aneh dengan Seyna. Tak biasanya Seyna seceria itu. Seyna yang tidak memperhatikan kebingungan yang tergambar di raut wajah sahabatnya itu hanya sibuk dengan dendangan lagunya.

“Aku perhatiin dari tadi kok senyum-senyum sendiri ? hayoo… kenapa ?” Sarah mulai menggoda Seyna.

“Hmmm… Syalala. Aku rasa aku jatuh cinta, Ra.”

“Ciiieee… siapa sih laki-laki yang sudah merebut hati sahabatku ini ?” Tanya Sarah sambil bercanda dan menyenggol bahu Seyna.

“Kamu pasti tau orangnya, Ra. Dan untuk sekarang, aku nggak akan kasi tau kamu. Aku mau kasi kejutan buat kamu. Nanti setelah aku jadian sama dia. Haha…”

“Hmm… gitu ya, sekarang udah main rahasiaan sama aku.”

Bukan hari itu saja, wajah Seyna berseri setiap hari. Seakan dewi asmara tengah berpihak padanya. Sejak saat itu, Seyna menjadi lebih tertutup pada Sarah. Dan selalu menyembunyikan inisial seseorang yang dicintainya.

Hitungan menit terganti jam, begitupun dengan jam yang kemudian berganti hari. Hingga akhirnya, Seyna harus menerima kenyataan bahwa Galang tak pernah memiliki rasa yang sama sepertinya.

“Maafin aku, Na. Aku sudah jatuh cinta pada seseorang. Aku yakin suatu hari nanti kamu pasti  seseorang yang lebih baik dari aku.” Kalimat yang diucapkan Galang akhirnya menorehkan luka yang dalam di hati Seyna.

Ada sengatan listrik yang menyambar palung hati Seyna begitu dalam. Senyuman yang awalnya tak pernah tergantikan dengan apapun, kini justru terganti air mata dan kenyataan yang seharusnya tidak akan pernah ia dengar. Dia tidak menyangka, cinta pertamanya tak pernah mencintainya. Gadis itu tertunduk dengan fikiran yang kacau, deraian air mata membanjiri wajahnya. Di saat seperti ini, Seyna sangat membutuhkan sahabatnya yang justru sedang bergulat dengan problema hatinya, yang ternyata juga mencintai Galang.

Saking terlarutnya dalam kesedihan, Seyna tidak menyadari kehadiran Sarah yang datang dan langsung duduk di samping sahabatnya itu. Ada suasana dan ekspresi yang tak wajar yang ditemui Sarah pada Seyna.

“Na… kamu kenapa ?”

“Galang, Ra ! Galang !” Butiran embun dari matanya perlahan jatuh.

“Galang kenapa ?”

Sarah seperti tidak terima sahabatnya menangis seperti itu. Tak ada respon dari Seyna. Hanya derai air matanya yang semakin deras. Sarah berusaha menenangkan sahabatnya itu.

“Jangan kayak gini dong. Cerita sama aku apa yang sebenarnya terjadi ?”

“Galang nggak pernah cinta sama aku, Ra. Pantas saja setiap bertemu, dia hanya bertanya tentang orang lain.” Kali ini Seyna terisak di depan sahabatnya itu.

“Apa mungkin laki-laki yang kamu cintai selama ini adalah Galang ?” kali ini Sarah terkejut mendengar siapa laki-laki yang dicintai sahabatnya itu.

“Iya, Ra. Tapi Galang tidak pernah mencintaiku. Aku udah salah mengerti arti dari setiap pandangan dan senyumannya. Aku terlalu yakin pada diriku sendiri bahwa dia mencintaiku.”

Sarah masih tidak percaya dengan apa yang dituturkan Seyna. Bagaimana mungkin dia jatuh hati pada orang yang sama dengan sahabatnya sendiri. Tapi, kemudian dia berusaha menenangkan perasaannya.

“Udah, Na. Jangan kayak gini dong. Aku nggak bisa liat kamu kayak gini.”

Sarah mengulurkan jemarinya untuk menghapus butiran embun di wajah Seyna dan merangkul sahabatnya dengan penuh perasaan. Tanpa sadar, dia meneteskan air mata melihat tangisan Seyna, sahabat satu-satunya yang paling ia sayangi. Seyna melepaskan rangkulan itu dan berusaha tersenyum dihadapan Sarah.

“Tapi aku bahagia, karena Galang sudah mencintai seseorang yang tepat. Meskipun itu bukan aku.”

“Maksud kamu apa, Na ?”

“Galang mencintai seseorang yang sangat aku sayangi. Katanya, gadis itu orang yang pertama kali membuat hatinya merasa sejuk. Dia pintar, ramah, dan begitu anggun. Gadis itu sekelas dengannya, dengan kita juga.”

Kemudian, Seyna berbalik menatap wajah sahabatnya lekat-lekat dan menggenggam jemari Sarah.

“Gadis yang berhasil merebut hati Galang dan membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, sekarang ada di hadapanku.”

“A..apa maksud kamu, Na ?” Sarah berusaha mencari kepastian dari ucapan Seyna.

“Iya. Gadis itu bernama Sarah Altafakiya. Dia satu-satunya sahabat terbaik dalam hidupku.”

Wajah Sarah seketika dipenuhi embun bening yang memang sudah terkumpul sejak tadi, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengar dari sahabatnya itu.

Itu tidak mungkin. Jika gadis itu, aku. Lalu bagaimana dengan perasaan sahabatku ? Sebenarnya aku juga mencintainya. Tapi aku tidak mungkin menggadaikan perasaan sahabatku sendiri. ~ Sarah

 Sarah bertanya-tanya dalam hatinya dan memberontak dengan perasaannya yang ternyata searah dengan Galang dan menjadi rumit dengan Seyna, sahabatnya.

“Aku tau. Sebenarnya kamu juga suka kan sama Galang ? aku bisa liat dari bahasa sikapmu, Ra. Aku baru sadar, cinta tidak akan indah dalam sebuah paksaan hati. Aku minta maaf, Ra. Aku sudah menghalangi jembatan cinta kamu sama Galang.”

“Enggak, Na. Aku nggak mungkin berani mencintai seseorang yang sangat dicintai sahabatku. Aku sayang banget sama kamu, Na. Aku nggak mungkin dan nggak akan pernah mungkin jatuh hati di tempat yang sama dengan sahabatku.”

“Kamu jangan bohong, Ra. Aku akan sangat merasa bersalah kalau sampai kamu bohongi perasaan kamu sendiri hanya demi perasaanku. Galang mencintai kamu. Kamu juga mencintai Galang. Aku yang memutuskan untuk mencintai Galang. Jadi bukan salah Galang jika ternyata dia memang tidak mencintaiku. Aku akan lebih bahagia kalau Galang sama kamu. Untukku, persahabatan kita lebih berharga dari apapun di dunia ini. Termasuk cinta yang aku rasakan. Aku ikhlas, Ra.”

Tanpa berkata apapun, Sarah memeluk Seyna dengan erat, juga sebaliknya, bersama deraian embun yang tak hentinya mengalir dari wajah kedua gadis yang bersahabat sejak 10 tahun lalu.

“Aku sayang kamu, Na. Aku sayang kamu ! Aku nggak akan pernah bisa mendapatkan sahabat lain seperti kamu.” Sarah masih tersedu dalam rangkulan Seyna.

“Aku juga sayang kamu, Ra.”

Bukan cinta, jika aku memaksanya untuk menerima rasaku. Percuma melangkah dengan rasa yang dipaksakan untuk bersatu. Lagipula aku berhutang budi padanya yang telah mengenalkanku pada cinta. Dan mungkin bukan jalan yang tepat untukku memilikinya. Biarlah rasa itu menjadi langkah untukku membangun cerita yang lebih indah. ~ Seyna

 

Ditulis pada tanggal 30 November 2015

Oleh Aohana

Posted in Surat Untuk Mas Ku (The Series)

Surat Untuk Mas Ku (Series 4) – Aku percaya kamu

 

Mataram, 08 September 2016

 

Mas, apa kabar bulan ini ? kamu disana baik-baik aja kan ? makanmu teratur kan, Mas ? aku khawatir dengan keadaanmu. Aku ingin selalu ada untukmu, Mas.

Ini sudah sekian hari sejak kamu memutuskan untuk meniadakan komunikasi di antara kita. Sampai saat ini aku belum bisa ikhlas menerima keputusanmu, Mas. Sekalipun aku mengerti kamu melakukannya untuk menempuh jalan yang benar, tapi perasaan dan fikiran yang selalu ingin mendengar dan mengetahui kabarmu dari jauh sangat menyiksaku.

Itu membuatku sering menghabiskan waktu dengan teman-temanku, Mas. Aku merasa ada yang hilang ketika kamu tiba-tiba meniadakan komunikasi itu. Jelas saja. Karena sebelumnya aku yang selalu mendengar suaramu dari jauh dan tenggelam dalam percakapan seru bersamamu, sekarang sudah tidak bisa berkomunikasi denganmu.

 Namun jika memang dengan meniadakan komunikasi membuatmu tetap nyaman denganku, maka aku akan berusaha melakukannya, Mas.

Mas, kamu ingat waktu kita bertemu awal juli yang lalu ? kamu datang dengan senyuman. Kemudian kamu berkunjung ke BTN tempatku tinggal. Tidak ada yang berubah darimu, hanya saja kamu semakin tampan. Dan itu membuatku harus selalu siap untuk cemburu dengan perempuan-perempuan yang akan melirikmu dengan kagum. Kamu tau, Mas ? aku diam-diam mengabadikan sosokmu dengan kamera handponeku dalam berbagai ekspresi ketika kamu sibuk berbicara dengan kakakku. Sekarang aku jadi suka senyum-senyum sendiri setiap kali melihat fotomu itu.

Kita memang jauh, Mas. Tapi kamu selalu memenuhi ruang di hatiku. Karena kita berada dalam sebuah takdir hati yang bernama cinta.

Jadi bagiku, cinta ya cinta. Tidak perlu mempermasalahkan jarak dan waktu. Bagaimanapun semua itu akan terkikis perlahan, dan akhirnya akan menemukan kebahagiaan sejati.

Mas, tak apa jika aku harus menunggu lebih lama lagi. Mungkin sekarang kamu masih butuh waktu untuk memikirkan dan mempersiapkan hal-hal terbaik di masa depan. Tapi aku minta satu hal, jangan pernah menyuruhku untuk memilih bertahan atau melepaskan. Karena entah sampai kapanpun aku tidak akan bisa menemukan seseorang dengan sosok sejati sepertimu. Aku sudah menyerahkan segenap perasaanku untuk kamu miliki, Mas. Cukup bilang semuanya akan baik-baik saja, maka semuanya akan baik-baik saja.

Aku sedang berusaha untuk tidak terus-menerus menuntutmu menikahiku, Mas. Bukan karena aku ingin menyerah atasmu, tapi karena aku mempercayaimu dan lebih menghormati segala keputusanmu di atas perasaanku. Maafkan aku jika sampai saat ini egoku selalu menyudutkanmu, Mas. Itu karena aku terlalu menyayangimu.

Jika ditanya siapa yang paling takut kehilangan pasangannya, maka jawabannya adalah AKU.

Aku sangat percaya dengan indahnya rencana Allah, Mas. Tapi aku tetap seorang perempuan yang takut kehilangan seorang lelaki yang ku cintai. Aku sangat takut jika seandainya kita tidak digariskan dalam satu takdir. Karena itu aku tidak pernah lupa untuk menyertakan namamu dalam setiap ibadahku kepada Allah agar aku dijadikan seseorang yang akan dihalalkan untukmu, dan kamu yang dihalalkan untukku.

Do’aku selalu menyertai langkahmu, Mas. Aku selalu mencintaimu :’)

Posted in Surat Untuk Mas Ku (The Series)

Surat Untuk Mas Ku (Series 3) – Hanya Kamu

 

Mataram, 03 Desember 2015

#Jangan khawatir, Mas. Di sela-sela kesibukanku, masih ada kamu.

Mas, aku ingin berterimakasih karena kamu sudah mengizinkanku mengaktifkan kembali akun facebook ku. Setelah sekian lama aku tidak beraktivitas di profilku, dan melihat aktivitas teman-temanku di beranda.

Tapi kamu jangan marah ya, mas. Jika suatu ketika kamu melihat ada comment-an laki-laki lain di status ku, ataupun sapaan manis mereka di wall ku. Kamu hanya harus percaya padaku, mas.

Setampan apapun para lelaki di luar sana, dan sehebat apapun mereka. Kamu selalu jadi yang pertama untukku.

Aku ingin jujur, mas. Beberapa waktu lalu ada seseorang yang mengajakku menikah. Dia menjanjikanku banyak hal yang tidak pernah kamu janjikan. Tapi aku tidak tertarik dengan tawarannya. Aku hanya akan setia denganmu, mas. Aku yakin janji yang “dia” lontarkan belum tentu benar-benar ditepati. Sebanyak dan seindah apapun janjinya, ucapanmu selalu yang pertama, mas.

Mas, dia memang berbeda denganmu. Kamu sering menuntutku harus begini dan begitu, seperti aku bukan diriku yang sebenarnya. Sedangkan dia adalah kebalikanmu. Dia membebaskanku melakukan apapun yang ku inginkan. Tapi meskipun aku risih dengan penuntutanmu, aku percaya itu adalah cara terbaik untukmu mengubahku menjadi seorang perempuan yang lebih dewasa, dan lebih tau bagaimana kodratnya sebagai seorang muslimah sejati.

Kamu kapan pulangnya, mas ? aku kangen. Semakin hari, rasa khawatir itu terus membayangiku. Aku khawatir banyak perempuan di luar sana yang menggodamu, meskipun aku percaya kamu akan sulit tergoda.

Seandainya kamu ada di sini bersamaku, mas. Aku akan bersandar di bahumu. Aku ingin berbagi segala masalah yang tengah melandaku. Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu, mas. Jika terus ku tulis seperti ini, mungkin akan menghabiskan banyak lembaran kertas kosong yang tak berdosa hanya untuk menumpaskan segala keluh kesalku selama menunggumu.

Aku yakin ini adalah salah satu cara-Nya untuk menguji sejauh mana kesabaran dan kesetiaan hati kita sebelum akhirnya Allah merestui hubungan kita, mas. Menjadikanku seseorang yang akan menemani tidurmu, melepaskan segala lelahmu sehabis pulang dari kantor, menjadi seseorang yang akan kamu nikmati wajahnya setiap kamu bangun tidur di pagi hari, menjadi seseorang yang akan melahirkan dan membesarkan anak-anakmu kelak, dan seseorang yang akan mendampingimu hingga nafas terakhir.

Dariku,

Yang tidak pernah berhenti untuk menyelipkan bait-bait kerinduan padamu.