Posted in Surat Untuk Mas Ku (The Series)

Surat Untuk Mas Ku (Series 2) – Ketika masa depan mulai bertanya

 

Mataram, 21 November 2015

Aku iri ketika melihat orang lain berjalan romantis dengan belahan jiwanya

Hmmm… aneh sekali ya, mas. Aku di sini dan kamu di sana. Kapan ya kita bertemu di pelaminan ? setiap hari aku berusaha keras untuk menjaga mata dan hatiku agar aku selalu bisa menjaga kesetiaanku padamu. Aku harap kamu juga begitu ya, mas.

Mas, setiap malam aku kesepian. Tanpa ada inbox ataupun telpon darimu. Aku menyibukkan diri dengan teman-teman kos ku. Tapi jika sedang lelah sepulang kerja, aku hanya akan tiduran memeluk guling dan memandangi layar hp ku (berharap ada namamu di antara pesan dan telpon yang masuk). Seandainya kita sudah bertemu sebelumnya pasti waktu-waktu selanjutnya akan ada percakapan lucu di antara kita, dan mungkin aku akan bertanya, “Mas, ingin dimasakkan apa besok ?”

Eh tau nggak, mas ? aku sudah banyak belajar menu masakan lho. Aku ingin membuatmu ketagihan dengan masakanku. Apalagi nanti ketika akhirnya Allah memilihku menjadi kekasih yang dihalalkan untukmu dan kamu yang dihalalkan untukku. Tapi kapan ya, mas ?

Mas, jangan risau hanya karena sebuah jarak dan perbedaan tempat kerja. Meskipun aku di sini dengan kesibukanku, dan kamu di sana dengan segudang kesibukanmu yang tidak jarang membuat kita jenuh dan terdesak kerinduan. Percayalah, mas. Allah tidak akan begitu saja  menggantungkan hubungan dua insan yang sudah terjalin cukup lama. Justru menurutku, Allah sedang menguji kesetiaan kita. Aku percaya itu, mas.

Aku selalu berdo’a agar kamulah pelabuhan terakhirku, mas. Kamu yang akan menjadi pemimpin hidupku di masa depan. Kamu yang akan ku nikmati garis wajahnya setiap aku bangun dari lelapku. Kamu yang akan menjadi imam dalam setiap sujudku.

Mas, meskipun segala do’a dan tasbihku selalu ada kamu dan kita, tapi aku tidak boleh egois menuntutmu menjadi milikku. Karena sejatinya kamu adalah milik Allah, dan bagaimanapun semuanya tentang rizki, jodoh, dan kematian sudah ada dalam dokumen-Nya. Aku hanya akan menjadi yang halal bagimu atas keridhaan-Nya, mas.

Aku mencintaimu atas Ridha-Nya, Mas.

Advertisements
Posted in Surat Untuk Mas Ku (The Series)

Surat Untuk Mas ku

Mataram, 18 November 2015

 

Kamu apa kabar, mas ?

Aku merindukanmu.

Aku masih di sini menunggumu kembali, mas. Menghempaskan sepi tanpa ada kamu yang menggenggam tanganku. Menepis semua isu negative tentang kita yang tengah menjalani LDR. Kamu tau apa yang membuatku bertahan sampai sejauh ini, mas ? karena aku merasa kamu adalah lelaki yang tepat untuk menutupi kekuranganku.

Karena aku yakin ketika kamu mengatakan akan menikahiku, kamu pasti akan mempertanggungjawabkannya.

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu, mas. Tentang rasa cintaku yang tidak pernah bisa termakan oleh jarak dan waktu. Tentang rindu dan kegalauan yang menyatu ketika kamu menghilang tanpa kabar. Dan bahagianya aku ketika akhirnya kamu menghubungiku. Aku bisa menikmati suaramu yang khas, perhatianmu yang hangat, dan tulusnya perasaanmu. Meskipun itu melalui media genggam, aku sangat bahagia.

Pernah suatu malam seorang teman meramal hubungan kita. Katanya kamu punya perempuan lain di seberang sana. Perempuan itu bukan sekedar teman untukmu, mungkin lebih dari itu. Aku menggalau, mas. Ada ketakutan luar biasa yang tiba-tiba datang. Aku takut kalau apa yang dikatakan temanku itu benar adanya.

Ada satu hal yang harus kamu tau, mas. Tidak usah khawatir dengan kesetiaanku. Karena meskipun aku percaya dengan apapun yang orang lain katakan dan  prasangka buruk yang berkeliaran di fikiranku tentangmu yang jauh di sana, tapi batinku selalu menentangnya. Bagai minyak yang menolak bersatu dengan air, seperti itulah batinku yang menolak sejalan dengan fikiranku. Aku mempercayaimu lebih dari siapapun, mas.

Mas, bukannya aku sok cantik dan sok pamer. Tapi kenyataannya memang ada beberapa lelaki di luar sana yang mendekatiku dan menjanjikan hal-hal indah yang diimpikan oleh semua perempuan di dunia ini. Jika itu perempuan lain, mungkin mereka akan menerimanya dengan bahagia dan melepaskan janji yang belum ada kepastiannya. Tapi aku berbeda, mas. Aku sudah memilihmu, dan akan tetap begitu sampai sang Khaliq sendiri yang memutuskan segalanya untuk kita.

Mas…

Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, selama kamu juga tidak akan pernah meninggalkanku.

Aku akan selalu bersabar menunggumu, sampai akhirnya nanti aku menjadi yang halal untukmu.

Cepat kembali, mas. Aku merindukanmu :’)

Posted in Puisi

Aku, kau, dan HUJAN

Hujan, bisakah kau datang bersamanya ?

Iringi langkahnya dengan nyanyian rindumu

Pertemukan aku dengan kehangatannya

Agar ku yakin dia masih ada bersamaku

Untukmu, pemilik hati yang enggan melihatku

Ingatkah dengan serangkai pesta termanis waktu itu

Menobatkanku menjadi satu-satunya puteri di istanamu

Mengecup anganku seakan aku memang tercipta untukmu

Jangan pernah salahkan cinta yang bertamu

Ia hanya satu rasa yang ingin diterima adanya

Tak perlu melibatkannya dalam pertarungan nyata

Antara aku, kamu, dan kita…

Aku menyukai hujan karenamu

Mencintainya seperti aku mencintaimu

Bukan tanpa alasan seperti apa yang kau lakukan

Namun karena ia adalah saksi bisu di antara cerita kita

Nanti, saat perasaanmu menemukan kehadiranku

Temui aku dengan senyumanmu yang membutakan hati

Genggam tanganku dengan segenap perasaanmu

Dekap aku bersama rindu yang tumpah di hatimu

Dan nyanyikan cerita hujan tentang kita.

 

(Kamis, 01 Desember 2016)

Posted in Love's Diary

Flashback “Kamu Lagi”

Kali ini aku bukan ingin menyesalkan apapun yang sudah terjadi. Aku hanya sedang merasa de javu dengan tetesan air di luar jendela kamar kos ku. Sebuah nyanyian hujan yang enggan ku mengerti. Hanya ada kehampaan dan kesedihan yang berakar dalam diam. Aku masih terus terpaku dengan tatapan menerawang saat sebuah perpisahan yang kamu inginkan belum diketuk waktu.

Kesedihan yang paling meyakitkan adalah saat kamu tidak bisa mengeluarkannya dengan air mata.

Aku tau kamu tidak menyukai hal-hal seperti ini. Mungkin konyol menurutmu, dan terlalu berlebihan. Berbeda denganku yang menulisnya, karena dengan begini aku bisa sedikit terbebas dari rasa rindu saat aku terbayang sosokmu. Salahkah jika aku teringat tentangmu sekalipun mungkin kamu berusaha untuk menghapus ingatanmu tentangku ?

Ini sudah masuk musim penghujan. Hujan di tahun keempat yang tidak bisa ku lewati bersamamu. Ingatkah apa yang kita lakukan di musim hujan pada 2012 lalu ?

Kamu menjemputku untuk berangkat sekolah bersama, menungguku di bawah naungan pohon cemara milik tetanggaku. Tiba-tiba saja gerimis datang dengan teka-teki yang seakan menanyakan jawabannya pada kita. Kamu tersenyum manis saat aku menghampirimu. Kemudian aku memberikan jaket putih yang sejak tadi bertengger manis di tanganku untuk kamu gunakan. Namun kamu menolaknya dengan satu jawaban yang membuat hatiku menghangat.

“Kamu saja yang pakai, nanti kamu kedinginan. Lagipula aku sudah biasa terkena hujan di jalan.”

Begitu katamu. Setelahnya kamu memacu kendaraanmu dengan aku yang terus tersenyum di balik punggung tegapmu. Awalnya aku sempat ragu berpegangan dimana. Akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada tali tas punggungmu yang berada di antara kita, berpegangan erat di sana seakan tak ingin pegangan itu terlepas sampai menemui takdirnya.

Satu hal yang tidak kamu tau bahwa saat itu aku tidak mengenakan jaket itu. Aku sengaja melakukannya karena aku ingin menikmati dinginnya hujan pagi denganmu. Itu menjadi pagi termanis yang ku miliki saat bersamamu. Suaramu yang seakan bersatu dengan hujan membuatku harus berusaha mendengarkan apa yang kamu ucapkan. Aku tersenyum geli saat merespon ucapanmu padahal sebenarnya aku sendiri tidak mendengar dengan jelas apa yang kamu bicarakan.

Namun itu semua dulu, disaat aku dan kamu masih menjadi kita. Sekarang itu hanya tinggal deretan cerita lama, sebuah kenangan yang selalu gagal untuk ku lupakan dan selalu terputar kembali saat aku bertemu dengan hujan.

Posted in Surat

Love Letter (Surat Cinta Dari Seorang Gadis Biasa)

Kota Selong, 30 januari 2015

Assalamuaikum wr…wb.

Dear, kamu yang ku rindukan…

Bagaimana kabarmu hari ini, calon imam idamanku ? semoga senyuman kebahagiaan selalu bersamamu di seberang sana. Tidak seperti aku di sini yang selalu teringat akan setiap kenangan bersamamu. Aku sengaja mengayunkan sebuah pena di atas kertas untukmu. Ada serangkai kalimat yang tidak bisa ku ungkapkan langsung padamu.

Bismillahirrahmaanirrahiim …

Jujur… sejak pertemuan kembali denganmu 2012 silam, aku terhipnotis dengan cahaya keteduhan yang terpancar dari wajahmu. Aku tak percaya itu kamu. Seorang sahabat kecil yang pertama kali ku kenal. Tapi, apapun itu aku selalu bersyukur pernah selalu bersamamu dalam nuansa persahabatan. Hingga aku merasakan getaran asing yang sebelumnya tak pernah merajai perasaanku. Itukah karunia sang Kuasa untuk sebentuk hati yang masih hampa ?

Minggu sore di bulan-bulan awal 2013. Terimakasih untuk kejujuran hatimu yang telah menyimpanku. Akupun begitu … . Atas sujud ilahi yang tak pernah mampu ku rangkaikan dengan deretan kalimat, atas tasbih hidup yang tak sedikitpun mampu ku cegah. Aku mencintaimu. Tapi aku sadar, kita tidak bisa menjadi sepasang kekasih seperti remaja lainnya yang saling memiliki. Aku masih ingat dengan keputusanmu yang ingin lebih dulu menggapai kesuksesan.

Kamu yang ku sayangi,

Mungkin sekarang aku hanya bisa mempersembahkan segenap rasaku untukmu. Tapi aku percaya dengan keindahan rencana Tuhan untuk umatnya. Jika memang kita diciptakan untuk bersama, kita pasti akan bertemu kembali. Dan semoga pertemuan itu menjadikanku yang halal untukmu dan kamu yang dihalalkan untukku.

Wassalam…

Gadis yang selalu menantimu

Posted in Quotes Cinta

Bukan aku

Kau tidak perlu repot-repot membayangkan rasanya jadi aku. Karena aku tipikal orang yang tidak suka dikasihani perasaannya.

Aku tidak pernah menyalahkanmu hanya karena kau tidak mencintaiku. Perasaan dan cinta adalah dua hal yang terlahir dari hati, jadi sangat mustahil jika ku paksakan sepotong hati agar menyatu dengan hati yang ku miliki.

Aku hanya tidak habis fikir dengan sadisnya perasaanmu, menjadikanku seakan-akan manekin percobaan untuk mengungkapkan cintamu pada yang lain. Manisnya kalimat cinta yang tercipta dari bibirmu seakan candu yang memabukkan bagiku. Hanya dengan dua kata “Aku mencintaimu”, aku berasa jadi merpati terbahagia. Tentu akan sangat indah jika saja tatapanmu tidak mengatakan hal yang sebaliknya.

Ucapan selalu bisa berperan sebagai pembohong, tapi tidak dengan tatapan yang selalu mengatasnamakan kejujuran.